PERAN PENDIDIKAN PESANTREN MEMBANGUN KARAKTER BANGSA

Dapat diyakini bahwa kemajuan suatu bangsa ditentukan oleh kemajuan pendidikannya. Akan tetapi pendidikan di Indonesia sama sekali belum sepenuhnya tersentuh oleh tangan-tangan pemerintah. Output yang dikeluarkan pun tidak seperti apa yang telah menjadi tujuan pendidikan.

Hakikatnya, pendidikan merupakan pencerminan kondisi negara dan kekuatan sosial-politik yang tengah berkuasa, pendidikan dengan sendirinya merupakan refleksi dari orde penguasa yang ada. Masalah pendidikan akan menjadi masalah politik apabila pemerintah ikut terlibat di dalamnya, di Negara otoriter yang menganut paham pemerintahan totalitarianism, pemerintah akan membatasi kebebasan individu dengan mengeluarkan kebijakan pendidikan yang uniform semua murid bagi Negara semacam ini, pendidikan adalah kekuatan politik untuk mendominasi rakyat, pemerintah secara mutlak mengatur pendidikan sebab tujuan pendidikan adalah membuat rakyat menjadi alat Negara, sebagai respon terhadap pandangan ini muncul paham pemerintahan yang menerapkan konsep negara demokrasi yang mengehendaki adanya demokratisasi dalam pendidikan.

Tujuan diselenggarakannya pendidikan untuk membentuk manusia yang memanusiakan manusia. Artinya, penyelenggaraan pendidikan harus diarahkan pada pembentukan perilaku yang baik. Karena itulah hampir seluruh lembaga pendidikan yang diselenggarakan di Indonesia ini terdapat muatan materi tentang akhlakul karimah. Diharapkan output-output yang dihasilkan nantinya di samping berintelektual tinggi, juga mempunyai budi pekerti yang baik sehingga menjadi teladan bagi masyarakatnya.

Penjelasan UU No. 20 Tahun 2003 tentang sisdiknas bahwa pendidikan Nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk mengembangkan potensi murid agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Dengan demikian, pendidikan karakter sebenarnya sebagai upaya kembali ke hakikat pendidikan yang sesungguhnya.

Untuk mendukung perwujudan cita-cita pembangunan karakter sebagaimana diamanatkan dalam Pancasila dan Pembukaan UUD 1945 serta mengatasi permasalahan kebangsaan saat ini, maka Pemerintah menjadikan pembangunan karakter sebagai salah satu program prioritas pembangunan nasional. Semangat itu telah ditegaskan dalam Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional RPJPN tahun 2005-2025, di mana pendidikan karakter ditempatkan sebagai landasan untuk mewujudkan visi pembangunan nasional, yaitu “mewujudkan masyarakat berakhlak mulia, bermoral, beretika, berbudaya, dan beradab berdasarkan falsafah Pancasila”.[1]

Dalam prosesnya, pendidikan karakter merupakan pembudayaan dan pemanusiaan. Pendidikan karakter akan mengantarkan warga belajar dengan potensi yang dimilikinya dapat menjadi insan-insan yang beradab, dengan tetap berpegang teguh pada nilai-nilai kemanusiaan, nilai-nilai kehambaan dan kekhalifahan.

Pendidikan karakter dalam konteks keindonesiaan adalah proses menyaturasakan sistem nilai kemanusiaan dan nilai-nilai budaya indonesia dalam dinamika kehidupan bermasyarakat, berbangsa, Pendidikan karakter bangsa dan bernegara merupakan suatu proses pembudayaan dan transformasi nilai-nilai kemanusiaan dan nilai-nilai budaya bangsa Indonesia untuk melahirkan insan atau warga negara yang berperadaban tinggi, warga negara yang berkarakter.

Dengan demikian, pendidikan karakter bukan hanya berurusan dengan penanaman nilai pada diri murid atau murid, melainkan merupakan sebuah usaha bersama untuk menciptakan sebuah lingkungan pendidikan tempat setiap individu dapat menghayati kebebasannya sebagai sebuah persyaratan bagi kehidupan moral dewasa.[2]

Dalam relevansinya dengan konteks kekinian pendidikan karakter diharapkan mangatasi krisis moral yang terjadi di negara. Dimana sering dengar di media audiovisual maupun media cetak hampir tiap hari ada berita kekerasan, pergaulan seks bebas, pencurian, pembunuhan yang dilakukan anak usia dini, korupsi bahkan pemerkosaaan.

Berdasarkan dari penyimpangan-penyimpangan pendidikan di atas, perlu memaksimalkan pendidikan yang ada di Indonesia mulai dari tingkat dasar sampai ke tingkat perguruan tinggi bahkan pendidikan pesantren, yang mana pendidikan pesantren lebih utama dan lebih penting karena pesantren menduduki posisi yang unik dalam dunia pendidikan di Indonesia. Keberhasilan pesantren sudah diakui dalam menanamkan pendidikan karakter. Sehingga tidaklah mengherankan jika dalam beberapa tahun terakhir ini banyak pakar pendidikan berusaha mengadopsi pola pendidikan pesantren ke dalam pendidikan umum SD, SMP, SMU, perguruan tinggi.

Pesantren memiliki kekuatan yang mengemban tugasnya sebagai lembaga pendidikan Islam terletak pada misinya yang bersikap agamis yang searah dengan kondisi masyarakat sebagai pemeluk agama. Kenyataan ini membawa dampak cepatnya terjadi perubahan pada masyarakat. Sikap pesantren yang demikian telah bergerak jauh melampaui lembaga pendidikan lainnya. Dan dapat dipahami pesantren telah nyata melaksanakan cita-cita pendidikan nasional tentang pembangunan manusia seutuhnya dan masyarakat seluruhnya. Sebagaimana prediksi Sudjatmoko pesantren juga dapat dikatakan sebagai lembaga pengembangan masyarakat muslim yang menganggap lembaga pendidikan agama sebagai suatu kekuatan yang mampu berfungsi dalam perkembangan sosial yang akan datang ke Indonesia. Menurut penulis persepsi Sudjatmoko sangat tepat jika lembaga pendidkan agama ini yang dimaksud adalah pondok pesantren.[3]

Pesantren diharapkan mampu mencetak manusia muslim sebagai penyuluh atau pelopor pembangunan yang taqwa, cakap, berbudi luhur untuk bersama-sama bertanggung jawab atas pembangunan dan keselamatan bangsa serta mampu menempatkan dirinya dalam mata rantai keseluruhan sistem pendidikan nasional, guna menjawab tantangan global yang semakin berkembang. Salah satu yang menjadi keunikan pesantren adalah begitu banyak variasi antar satu pesantren dengan pesantren yang lain. Namun demikian, dalam berbagai aspek dapat ditemukan kesamaan-kesamaan umum. Kalau ditelusuri lebih lanjut, maka akan ditemukan kesamaan-kesamaan umum dan variabel-variabel struktural seperti bentuk kepemimpinan, organisasi pengurus, dewan Kiai atau dewan guru, susunan rencana pelajaran, kelompok santri dan bagian-bagian lain yang apabila dibandingkan antara satu pesantren dengan pesantren yang lain, dari satu daerah dengan daerah yang lain, maka akan ditemukan tipologi dan variasi dunia pesantren.

Dalam pembangunan pendidikan, pesantren memiliki kontribusi nyata dalam pembangunan pendidikan. Dilihat secara historis, pesantren memiliki pengalaman yang luar biasa dalam membina dan mengembangkan karekter di masyarakat. Terlebih pesantren mampu meningkatkan perannya secara mandiri dengan menggali potensi yang dimiliki masyarakat di sekelilingnya. Pendidikan karakter seharusnya ditempatkan sebagai landasan mewujudkan visi pembangunan nasional. Tertulis jelas bahwa visi pendidikan karakter mewujudkan masyarakat berakhlak mulia, bermoral, beretika, berbudaya, dan beradab berdasarkan falsafah Pancasila.

Pesantren merupakan lembaga pendidikan yang holistik integratif. Dalam internalisasi pendidikan karakter pesantren ditekankan untuk menanamkan sebuah kebiasaan (habituation) tentang hal yang baik sehingga peserta didik menjadi paham (kognitif) tentang mana yang benar dan salah, mampu merasakan (afektif) nilai yang baik dan biasa melakukannya (psikomotor).

[1] Ibrahim Bafadal dalam http://wordpress.com/2010/12/20/pendidikan-karakter-dalam-uu-no-20-tahun-2003/ yang diakses pada tanggal 24 November 2015

[2]Doni Koesoema A, Pendidikan Karakter Strategi Mendidik Anak di Zaman Global, (Jakarta: Grasindo, 2007), 4.

[3]Sudjatmoko, Etika Pembebasan (Jakarta: LP3ES, 1988), 268.

 

Achmad Fauzi

Pesantren Tahfizh Daarul Bandung

Author: ar.daqu