“Tradisi Ngaliwet Memupuk Kebersamaan dan Kekeluargaan”

“Tradisi Ngaliwet Memupuk 
Kebersamaan dan Kekeluargaan”

Bandung – DaQu News 08 Maret 2019

Mendengar kata ngaliwet tentu bukan hal yang asing bagi para santri yang pernah tinggal di pesantren. Kegiatan makan bareng nasi liwet dalam satu talam bersama-sama menjadi kenangan yang tak terlupakan. Tradisi makan nasi liwet beramai-ramai ternyata telah ada sejak lama. Di beberapa daerah, tradisi ini memiliki nama khusus. Di Bali misalnya dikenal dengan istilah megibung, di daerah sunda terkenal dengan istilah bancakan, tak ketinggalan talaman juga menjadi khas di jawa serta istilah-istilah lain diberbagai tempat. Kegiatan tersebut saat ini tren tersebut kembali melanda masyarakat diluar pesantren, bahkan kaum urban. Bersama-sama mengonsumsi nasi liwet dengan cara memanjang dan disantap kian ramai dilakukan.

Ngaliwet sudah menjadi simbol kekeluargaan, gotong royong, dan saling berbagi di kalangan masyrakat Sunda. Cara makan nasi liwet yang seperti ini akan mempererat silaturahim dan kekeluargaan. Dalam Biasanya ngaliwet akan diadakan diluar rumah seperti di pinggiran sawah, kebun, atau di tempat lainnya agar lebih terasa tradisionalnya yang sudah dilakukan oleh masyarakat Sunda sejak dulu dan sudah turun temurun.

Pemandangan yang penuh kekeluargaan pun terlihat para santri, asatidz dan seluruh karyawan Pesantren Daarul Qur’an Bandung yang sedang menikmati bancakan. Kegiatan yang berlangsung setelah pelaksanaan shalat Jum’at ini diinisiasi oleh Divisi SDM Daarul Qur’an sebagai ikhtiar memupuk kebersamaan seluruh keluarga Pesantren Tahfizh Daarul Qur’an Bandung. “Dari hal yang sederhana ini harapannya dapat memupuk kebersamaan”. Ungkap Ust. Kosasih selaku kepala divisi SDM.

Selain itu tujuan ngaliwet bareng merupakan ekspresi rasa syukur kepada Allah atas nikmatnya yang tidak pernah putus. Tentang menu masakan sangatlah variatif, tergantung kesepakatan bersama. Menu yang dihadirkan dalam ngaliwet kali ini nasi putih, ayam, sayuran, dan pete yang disajikan di atas daun pisang. Nampak para santri, asatidz dan karyawan menikmati dengan lahap dan menyantap bersih menu yang telah disediakan.  Kegiatan tersebut insya Allah mulai tahun ini akan diistiqomahkan dilaksanakan 2 minggu sekali, agar terus tumbuh rasa kebersamaan dan rasa kekeluargaan keluarga besar pesantren yang berlokasi di Jalan Nagrog No. 85 RT/RW 03/12 Kampung Ciwaru Kelurahan Pasanggrahan Kecamatan Ujungberung Kota Bandung tersebut. (Achmad Fauzi/08/03/2019)

Author: ar.daqu

Leave a Reply